Menyambut Ramadhan, ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha

Pengantar

Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada kaum muslimin bulan Ramadhan nan mulia. Di tengah padatnya aktifitas keseharian seorang muslim di sepanjang tahunnya, di antara hiruk pikuk dinamika kehidupan yang tidak pernah lepas dari berbagai fitnah dan godaan… Allah membuka kesempatan bagi setiap hamba-Nya untuk lebih berkonsentrasi mendekatkan diri kepada-Nya selama bulan suci Ramadhan. Akan dimudahkan baginya meningkatkan ketakwaan, menjalankan ketaatan, meninggalkan kemaksiatan, memohon ampunan dan menggapai kejayaan Dengan izin-Nya.

Berikut ini, penulis mencoba memberikan catatan ilmiyah ringkas sederhana yang semoga dapat membantu para pembaca dalam mengenal lebih mendalam kemulian Ramadhan. Menyegarkan kembali ingatan kita dalam mengkaji etika di bulan Ramadhan, panduan praktis fikih berpuasa dan menyambut pelaksanaan Hari Raya Idul Fitri serta bimbingan doa-doa yang diajarkan oleh Nabi tercinta Muhammad . Semua sesuai tuntunan syariat Islam. Berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an, hadits-hadits Nabi yang shahih atau mutiara atsar generasi Salaf Shalih. Yang demikian itu agar setiap ucapan, perbuatan dan keyakinan kita adalah kebenaran yang mendatangkan pahala serta keberkahan dari Allah . Karena sesungguhnya Rasulullah wafat setelah menyampaikan syariat Islam seutuhnya. Maka tiada satu kebaikanpun melainkan telah diajarkan dan dicontohkannya oleh beliau . Sebaliknya, tiada satu keburukan pun melainkan telah diwaspadakan oleh beliau agar dijauhkan oleh umatnya.

Semoga Ramadhan kali ini dapat menjadi titik tolak kebaikan dalam menapaki langkah di masa berikutnya. Semoga Ramadhan tahun ini lebih baik dari Ramadhan sebelumnya. Hanya kepada-Nya kita memohon taufiq dan petunjuk, keikhlasan dalam beribadah dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat, amin.

MarhabanYaRamadhan.SelamatDatangBulanMulia

MenyambutRamadhanMenggapaiKemuliaan

Mengenal Ramadhan

Ramadhan…, bulan yang dirindukan telah tiba. Ramadhan…, bulan agung nan mulia, tak seorang pun sanggup mengingkari kemuliaannya. Betapa tidak? Bulan sarat berkah, indah penuh rahmah. Di bulan Ramadhan Allah menurunkan Al-Qur`an kitab mulia, sebagai petunjuk dan cahaya. Di bulan Ramadhan Allah menjanjikan ampunan terhadap dosa-dosa, memudahkan kebaikan serta melimpahkan pahala dan cinta kasih-Nya . Seindah apakah Ramadhan ??

  1. Ramadhan bulan kebaikan

إِذَا كَانَ أَوّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِدَتِ الشّيَاطِيْنُ وَمَرَدَةُ الْجِنّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِي مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرّ أَقْصِرْ

Apabila tiba malam pertama bulan Ramadhan, para setan jahat serta jin pembangkang yang durjana dibelenggu. Ditutup pintu-pintu neraka, maka tidak ada satu pun pintu neraka yang dibuka. Demikian pula dibuka pintu-pintu surga, sehingga tidak ada satu pun pintu surga yang ditutup. Malaikat menyeru “wahai pencari kebaikan, datanglah (menuju ketaatan Allah ). Wahai pelaku keburukan, berhentilah (bertaubatlah dari kemaksiatan kepada Allah )…”.1

  1. Ramadhan bulan ampunan

الصّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرَ

Sholat lima waktu, shalat jum’at ke shalat jum’at berikutnya, serta satu

bulan Ramadhan ke Ramadhan selanjutnya adalah penghapus segala dosa yang dilakukan di antara keduanya, selama dosa-dosa besar dijauhkan”.2

  1. Ramadhan bulan keberkahan

أَتَاكُمْرَمَضَانُ،شَهْرٌمُبَارَكٌ،فَرَضَاللهُعَزّوَجَلّعَلَيْكُمْصِيَامَهُ،تُفْتَحُفِيْهِأَبْوَابُالسَّمَاءِوَتُغْلَقُفِيْهِأَبْوَابُالْجَحِيْمِ،وَتُغَلّفِيْهِمَرَدَةُالشَّيَاطِيْنِ،لِلّهِفِيْهِلَيْلَةٌخَيْرٌمِنْأَلْفِشَهْرٍ،مَنْحُرِمَخَيْرَهَافَقَدْحُرِمَ

Telah tiba bagi kalian bulan Ramadhan, bulan penuh berkah. Allah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa. Pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu neraka jahim ditutup. Setan durjana dibelenggu selama bulan ini. Padanya Allah menentukan suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang terhalangi (mendapatkan) kebaikannya, maka dia telah merugi”.3

  1. Ramadhan bulan Al-Qur’an

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

Bulan Ramadhan yang padanya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan sebagai penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara hak dan batil)”(QS. Al-Baqarah: 2/185).Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah memuji dan mengistimewakan bulan Ramadhan dari bulan-bulan lainnya dengan memilih Ramadhan sebagai waktu diturunkannya Al-Qur’an”.4

  1. Ramadhan bulan pembebasan (dari adzab neraka)

وَلِلَّهِ عُتَقَاء مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ فِيْ كُلّ لَيْلَةٍ

“… Dan Allah membebaskan hamba-hamba yang dikehendaki-Nya dari (siksa) neraka. Demikian itu, di setiap malam (bulan Ramadhan)”.5

  1. Ramadhan bulan kesabaran

صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ رَمَضَانَ، صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ، وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ

Berpuasalah di bulan kesabaran (yakni Ramadhan), berpuasalah di bulan kesabaran dan tiga hari di setiap bulan”.6

  1. Ramadhan bulan berdoa

ثَلاَثٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ : المُسافِر، الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ

Ada tiga orang yang tidak tertolak doanya; seorang musafir, seorang yang berpuasa sehingga ia berbuka, serta doa seorang yang terzalimi”.7

Dan dalam riwayat lain

ثَلاثٌ دَعَوَاتٍ لَا تُرَدُّ : دَعْوةُ الوَالِدِ لِوَلَدِهِ، ودَعْوَةُ الصَّائِمِ، ودعوَةُ الْمُسَافِرِ

Adatiga orang yang tidak tertolak doanya; doa kebaikan orang tua bagi anaknya, doa seorang yang bepuasa dan doa seorang musafir (dalam perjalan).8

  1. Ramadhan bulan lailatul qadar. Malam yang lebih mulia dari seribu bulan.

Allah berfirman لَيْلَةُالْقَدْرِخَيْرٌمِنْأَلْفِشَهْرٍ, artinya“(Malam) lalilatul qadar

lebih baik dari seribu bulan” (QS. Al-Qadar: 97/2). Dan Rasulullah bersabda تَحَرَّوْالَيْلَةَالْقَدْرِفِيْالْوِتْرِمِنْالْعَشْرِالْأَوَاخِرِمِنْرَمَضَانَCarilah malam lailatul qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh hari akhir bulan Ramadhan”.9

  1. Ramadhan bulan sedekah

Ibnu Abbas berkata “Rasulullah adalah seorang yang paling dermawan, kedermawanan yang paling hebat pada diri beliau adalah di bulan Ramadhan pada saat Malaikat Jibril menemuinya. Jibril mendatanginya di setiap malam untuk mengajarkannya Al-Qur`an. Dan sungguh (saat itu) Rasulullah lebih dermawan daripada angin lepas yang berhembus”.10

  1. Ramadhan bulan para shiddiqin (orang-orang yang jujur) dan syuhada’ (orang-orang yang syahid)

Suatu saat seorang pria bertanya kepada Rasulullah Duhai Rasulullah , apakah pendapat engkau bilamana aku bersaksi bahwa tiada tuhan Yang berhak disembah selain Allah , dan bahwa engkau adalah utusan Allah. Lantas aku menegakkan shalat lima waktu, menunaikan zakat serta berpuasa Ramadhan dan shalat tarawih di malam-malam Ramadhan. Maka termasuk orang seperti apakah aku?”… Rasulullah menjawabnya seraya bersabda “(engkau) termasuk shiddiqin dan syuhada’”.11

  1. Ramadhan bulan berlipat gandanya pahala

Berlipatnya pahala amalan di bulan Ramadhan ini mutlak untuk semua amal shalih.12

Imam An-Nakha’i rahimahullah menyatakan “Puasa sehari di bulan Ramadhan lebih afdhal dari puasa di seribu hari lainnya. Begitu pula satu bacaan tasbih (berdzikir “subhanallah”) di bulan Ramadhan lebih afdhal dari seribu bacaan tasbih di hari lainnya. Begitu juga pahala satu raka’at shalat di bulan Ramadhan lebih baik dari seribu raka’at di bulan lainnya.

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah mengatakan, “Sebagaimana pahala amalan puasa akan berlipat-lipat dibanding amalan lainnya, maka puasa di bulan Ramadhan lebih berlipat pahalanya dibanding puasa di bulan lainnya. Ini semua bisa terjadi karena mulianya bulan Ramadhan dan puasa yang dilakukan adalah puasa yang diwajibkan oleh Allah pada hamba-Nya. Allah pun menjadikan puasa di bulan Ramadhan sebagai bagian dari rukun Islam, tiang penegak Islam”.13

  1. Umrah di bulan Ramadhan menyamai pahala haji bersama Rasulullah

Tentang keutamaan umrah di bulan Ramadhan Nabi bersabda

فَإِنَّ عُمْرَةً فِيْ رَمَضَانَ حَجَّةٌSesungguhnya umrah di bulan suci Ramadhan setara (pahalanya) dengan ibadah haji”.14 Dan dalan riwayat lain “setara pahalanya dengan ibadah haji bersamaku”, yakni bersama Nabi .15

IbnuRajabrahimahullahberkataadalahkaumsalafmembacaAl-Qur’anpadabulanRamadhandiwaktushalatdanselainnya
(LathaifAl-Ma`arifhal:191)

MengkajiEtikaRamadhan

Setelah mengetahui kemuliaan Ramadhan, selanjutnya merupakan suatu keniscayaan bagi seorang mukmin untuk melewatinya dengan penuh kataatan. Menjadikan kesucian Ramadhan sebagai musim kebaikan, serta menyambutnya dengan semua etika yang dituntunkan dalam Islam.

  1. Memohon kepada Allah dalam doa agar mempertemukan kita dengan keagungan bulan Ramadhan

Ma`la bin Al-Fadhl rahimahullah bertutur mengatakan “Salaf Shalih generasi terbaik umat ini memanjatkan doa kepada Allah sejak enam bulan sebelumnya untuk berjumpa dengan Ramadhan dan selama enam bulan berikutnya agar ibadah puasa mereka diterima oleh Allah ”. Yahya bin Abi Katsir rahimahullah bersaksi bahwa diantara doa mereka adalah

اَللَّهُمَّ سَلِّمْنِيْ إِلَى رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لِيْ رَمَضَانَ وَتُسَلِّمْهُ مِنِّيْ مُتَقَبَّلاً

“Ya Allah sampaikanlah aku kepada Ramadhan, dan sampaikanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah ibadah Ramadhan daripadaku dengan kerelaan”.16

  1. Bertaubat kepada Allah dari segala dosa dan maksiat, serta memperbanyak istighfar

Sangat disayangkan, sebagian orang tetap bergelimang dosa di bulan Ramadhan. Dalam menggambarkan realita itu seorang penyair berkata:

Wahai engkau yang belum merasa puas berbuat dosa di bulan Rajab

Dan masih saja bermaksiat kepada Allah di bulan Sya`ban

Sungguh telah datang keteduhan naungan bulan Ramadhan setelah keduanya

Maka, janganlah engkau menjadikannya pula sebagai bulan penuh dosa

Bacalah Al-Qur`an, bersungguhlah dalam bertasbih dengan segala upayamu

Karena sesungguhnya Ramadhan adalah bulan tasbih, ibadah dan tilawatul qur`an

Betapa banyak engkau mengenal mereka yang telah berpuasa sebelum ini

Di antara sanak keluarga, para tetangga dan handai taulan

Ternyata mereka telah dijemput oleh ajal kematian,… dan menyisakan dirimu

Dekat nian seorang yang masih hidup dengan yang telah tiada

Suatu saat Rasulullah bersabda

وَرَغِمَأَنْفُرَجُلٍدَخَلَعَلَيْهِرَمَضَانثُمَّانْسَلَخَقَبْلَأَنْيُغْفَرَلَهُ

… dan celaka seseorang yang mendapatkan bulan Ramadhan, kemudian melewatinya sebelum diampuni dosa-dosanya…”.17 Semoga Allah menjauhkan kita dari kecelakaan dan kerugian.

  1. Berilmu sebelum berucap dan beramal

Dalam kitab Shahih Al-Bukhari Pasal Ilmu Imam Al-Bukhari rahimahullah berkata “Bab; Berilmu sebelum berucap dan beramal”. Hal ini penting untuk kita perhatikan. Maka, mari kita landaskan semua bentuk ucapan dan amal ibadah kita dengan ilmu dan tuntunan agama ini. Rasulullah bersabda مَنْعَـمِلَعَـمَلاًلَيْسَعَلَيْهِأمْرُنَافَهُوَرَدٌّ,artinya “barangsiapa melakukan sebuah amalan yang bukan merupakan tuntunan kami, maka amalan itu tertolak”.18

  1. Mengikhlaskan niat di setiap ibadah

Memurnikan tujuan ibadah dan menjauhkannya dari noda syirik. Mendasari segala ucapan, amal perbuatan maupun bisikan hati hanya dalam rangka mengharap ridha Allah , serta meneladani tuntunan ajaran Rasulullah . Itulah hakekat tauhid, Allah berfirman

فَمَنْكَانَيَرْجُولِقَاءَرَبِّهِفَلْيَعْمَلْعَمَلًاصَالِحًاوَلَايُشْرِكْبِعِبَادَةِرَبِّهِأَحَدًا

yang artinya “barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan siapapun dalam beribadah kepada Rabbnya” (Qs. Al-Kahfi: 18/110). Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsir ayat ini “dan ini adalah dua rukun diterimanya sebuah amal ibadah; yakni, hendaklah mengikhlaskan niatnya kepada Allah semata, serta meneladani tuntunan syariat yang diajarkan oleh Rasulullah ”.19 Hendaknya kita selalu memperhatikan dua syarat mutlak ini dalam setiap penghambaan diri kita kepada Allah melalui semua bentuk ibadah.

  1. Meningkatkan takwa kepada Allah

Hikmah agung disyariatkannya puasa adalah menggapai nilai takwa. Allah berfirman “wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Qs. Al-Baqarah: 2/183). Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsir ayat ini “karena di dalam puasa terdapat pensucian jasmani, dan dapat mempersempit ruang gerak godaan setan”.20 Kita patut menyadari bahwa sesungguhnya Allah menguji setiap hamba-Nya di sepanjang hayat kita terlebih di bulan semulia Ramadhan. Karenanya, banyak amalan bulan Ramadhan yang mendapatkan ganjaran besar berupa maghfirah (ampunan) terhadap dosa-dosa sebelum Ramadhan bilamana dilakukan dengan dasar dan dorongan iman serta mengharap pahala dari-Nya. Ini menunjukkan bahwa hendaklah setiap saat seorang mukmin meningkatkan kualitas keimanannya kepada Allah , menjalankan semua perintah Allah , menjauhi segala maksiat dan larangan-Nya, menegakkan amar ma`ruf nahi mungkar dimana pun dia berada, terlebih lagi tatkala ia berada di bulan indah, seindah Ramadhan.

  1. Menjaga shiyam (puasa) dari segala hal yang merusak arti penting ibadah Ramadhan

Sepatutnya setiap dari kita menjaga diri dari segala perbuatan dosa, menghindari kata-kata dan perbuatan kotor yang tercela, menjauhi teriakan-teriakan atau persengketaan, ucapan dusta dan lain sebagainya. Rasulullah bersabda مَنْلَمْيَدَعْقَوْلَالزُّوْرِوَالْعَمَلَبِهِفَلَيْسَلِلَّهِحَاجَةٌفِيْأَنْيَدَعَطَعَامَهُوَشَرَابَهُ

barangsiapa tidak meninggalkan ucapan dusta dan amalannya, maka Allah tidak membutuhkan darinya (puasa) saat dia meninggalkan makanan dan minumannya”.21 Bahkan, selayaknya dia mempertajam kesabaran, sekalipun ada yang mencercanya. Dalam sebuah hadits qudsi Rasulullah bersabda “Allah berfirman “… apabila salah seorang di antara kalian tengah berpuasa, maka janganlah ia berbuat kotor, atau berteriak-teriak. Dan bila seseorang mencela atau memeranginya hendaklah ia berkata “sesunggunya aku sedang berpuasa”….”.22

  1. Menjalankan puasa dan menjaga stabilitas pelaksanaan shalat fardhu dan tarawih

Di antara yang sangat disayangkan dari sebagian kaum muslimin, adalah tatkala mereka melalaikan adab-adab di bulan Ramadhan. Di antara mereka, banyak yang meninggalkan puasa tanpa sebab yang dibenarkan dalam syariat Islam. Mereka makan dan minum di hadapan khalayak ramai tanpa rasa malu sedikitpun. Atau meninggalkan shalat padahal dirinya tengah berpuasa, seakan-akan puasa hanyalah formalitas yang mengiringi rutinitas harian Ramadhan sekalipun tanpa menunaikan shalat fardhu. Sebagian yang lain lagi, mengalih-fungsikan malam-malam bulan Ramadhan justru untuk melakukan perbuatan dosa dan sia-sia ketika kaum muslimin pada umumnya tengah mendekatkan diri kepada Allah dengan menjalankan shalat tarawih. Padahal Rasulullah bersabda

مَنْصَامَرَمَضَانَإِيْمَانًاوَاحْتِسَابًاغُفِرَلَهُمَاتَقَدَّمَمِنْذَنْبِهِ

barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan dasar keimanan dan mengharap pahala dari Allah , maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.23 Dalam hadits yang lain beliau juga bersabda

مَنْقَامَرَمَضَانَإِيْمَانًاوَاحْتِسَابًاغُفِرَلَهُمَاتَقَدَّمَمِنْذَنْبِهِ

barangsiapa beribadah qiyamul lail (shalat tarawih) dengan dasar keimanan dan mengharap pahala dari Allah , maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.24 Hendaklah seorang mukmin memanfaatkan waktunya di bulan Ramadhan untuk beribadah, agar kelak dia dapat menuai kebahagiaan dan buah manisnya di kehidupan akhirat.

  1. Memperbanyak membaca Al-Qur`an

Ibnu Abbas berkata “… Malaikat Jibril menemui Rasulullah di setiap malam sepanjang bulan Ramadhan hingga ia berakhir, dan Rasulullah memaparkan bacaan Al-Quran kepada Jibril”.25 Kecintaan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an akan melahirkan keimanan yang kokoh di dalam jiwa. Al-Qur’an akan menjadi syafa`at kebaikan bagi pembacanya, Rasulullah bersabda اِقْرَءُواالْقُرْآنَفَإنَّهُيَأْتِييَوْمَالْقِيَامَةِشَفِيْعًالِأَصْحَابِهِ , artinya “bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya ia menjadi syafa`at bagi yang membacanya pada hari kiamat”.26

  1. Meningkatkan kedermawanan dalam bersedekah

Dan demikian pula keteladanan Nabi kita Muhammad dalam bersedekah di bulan mulia ini. Ibnu Abbas berkata “Rasulullah adalah seorang yang paling dermawan, kedermawanan yang paling hebat pada diri beliau adalah di bulan Ramadhan pada saat Malaikat Jibril menemuinya. Jibril mendatanginya di setiap malam untuk mengajarkannya Al-Qur`an. Dan sungguh (saat itu) Rasulullah lebih dermawan daripada angin lepas yang berhembus”.27 Beliau melakukannya seakan tidak mengkhawatirkan kefakiran pada dirinya sendiri. Karena beliau meyakini janji Allah yang terungkap dalam sebuah sabdanya مَانَقَصَتٍصَدَقَةٌمِنْمَالٍartinya “tidak akan berkurang harta seseorang dengan bersedekah”.28 Berbagi kebaikan dengan fakir miskin yang selalu menanti uluran tangan. Dengan gemar bersedekah diharapkan kita dapat mengasah kepekaan serta mengikis kekikiran. Agar terwujud rasa syukur kepada Allah , dan tercipta rasa suka dan bahagia bersama mereka kaum papa yang membutuhkan. Di sisi lain, kita dapat pula meraih pahala besar dengan memberikan ifthar (makanan berbuka puasa) bagi orang-orang yang berpuasa. Rasulullah bersabda

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

Barangsiapamemberikan ifthar bagi seorang yang berpuasa, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.29

  1. Melakukan i`tikaf dan menanti lailatul qadar

Rasulullah senantiasa menjalankan i`tikaf di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan sampai beliau meninggal dunia.30 Yaitu berada di dalam masjid sepanjang masa i`tikaf, mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah.31 Aisyah bertutur mengatakan “apabila telah tiba sepuluh malam terakhir Ramadhan, maka Rasulullah mengencangkan ikatan sarungnya, mengidupkan malamnya serta membangunkan keluarganya (untuk beribadah)”.32 Berharap menjumpai suatu malam istimewa yang lebih baik daripada seribu bulan.33 Rasulullah bersabda “carilah lailatul qadar di malam ganjil pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan”.34 Bersungguhlah pada malam-malam itu dengan apapun yang dicintai Allah . Rasulullah juga bersabda “…dan barangsiapa melakukan qiyamul lail di malam lailatul qadar dengan dasar keimanan dan mengaharap pahala dari Allah , maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.35

  1. Memperbanyak doa

Rasulullah bersabda: ثَلاثٌ دَعَوَاتٍ لَا تُرَدُّ : دَعْوةُ الوَالِدِ لِوَلَدِهِ، ودَعْوَةُ الصَّائِمِ، ودعوَةُ الْمُسَافِرِ

Adatiga orang yang tidak tertolak doanya; doa kebaikan orang tua bagi anaknya, doa seorang yang bepuasa dan doa seorang musafir (dalam perjalan)“.36 Rasulullah juga bersabda37 yang artinya “Tidaklah seorang muslim berdoa kepada Allah dengan sebuah doa yang bukan permohonan dosa atau pemutusan ikatan keluarga di dalamnya, melainkan Allah akan memberinya satu di antara tiga perkara; 1) boleh jadi Allah segera mengabulkan doa tersebut di dunia, 2) atau menyimpan sebagai tabungan baginya di akhirat, 3) atau menyelamatkannya dari kejelekan yang setara dengan doa yang dipanjatkannya”. Para sahabat berkata “jika demikian, kami akan memperbanyak (doa)”. Rasulullah menjawab “Allah lebih banyak”.38 Ibnu Katsir rahimahullah berkata “yang dimaksud adalah bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan doa seseorang, dan Allah tidak disibukkan dengan sesuatu apapun, Dia Maha mendengar doa. Dalam hal ini terdapat anjuran (memperbanyak) berdoa karena tidak satupun yang luput dari-Nya “.39 Apalagi, pada saat kita tengah mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah puasa di bulan Ramadhan. Sehingga Ibnu Katsir rahimahullah berkata “disisipkannya ayat ini40 di tengah-tengah penjelasan hukum-hukum shiyam merupakan petunjuk sekaligus motivator untuk (banyak) berdoa pada saat menyelesaikan bilangan puasa, bahkan pada setiap moment berbuka puasa sebagaimana hadits di atas”.

Hendaknya kita mengambil kesempatan yang istimewa ini dengan memperbanyak doa bagi kebaikan kita di dunia dan akhirat.

  1. Membersihkan jiwa dan raga dari segala bentuk keharaman

Memastikan makanan, minuman dan pakaian kita bersih dari noda riba, uang sogok, hadaya `ummal, dan apapun yang tidak diridhai Allah . Demikian pula infaq, zakat serta perbelanjaan yang kita sedekahkan hendaknya hanyalah bersumber dari pendapatan yang halal. Sebab, manalah mungkin doa akan dikabulkan dari seseorang yang masih belum suci dari keharaman??! Ada seseorang yang memanjatkan doa tanpa mempedulikan kesucian jiwa raganya, lantas Rasulullah bersabda “… Namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi dari yang haram. Bagaimana mungkin doanya dikabulkan?!!”41

  1. Mengisi waktu dengan ketaatan kepada Allah dan berupaya istiqamah di jalan-Nya

Betapa mudah kata “istiqamah” diucapkan, namun… betapa besar perjuangan yang dibutuhkan untuk dapat merealisasikan makna istiqamah di jalan-Nya . Hal ini tentu saja memerlukan ketabahan, pengorbanan serta yang paling utama adalah taufiq Allah . Terlebih lagi kita hidup di era global yang ramai “fitnah”. Dalam hal ini Rasulullah memberikan keteladanan sebuah doa. Di dalam banyak kesempatannya beliau memanjatkan

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ

Wahai (Allah ) Yang Maha membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu”.42

اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ

Ya Allah …, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu”.43

Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya kepada kita, memudahkan setiap langkah kita dalam menggapai ridha-Nya, amin..

Seorang anak akan tumbuh sesuai dengan yang ditanamkan oleh kedua orang tuanya semenjak masih belia, maka bimbinglah ia untuk dekat dengan Allah melalui ibadah shiyam

PanduanPraktisShiyam(Puasa)Ramadhan

  1. Definisi

Shiyam dalam bahasa arab berarti menahan. Adapun secara istilah bermakna “menahan diri dari makan, minum, jima` (bergaul dengan isteri), serta hal-hal lain yang membatalkan puasa dalam rangka beribadah kepada-Nya dan menggapai ridha-Nya , dimulai sejak terbit fajar sampai terbenam matahari”.

  1. Syariat Shiyam

Shiyam adalah ibadah yang telah Allah tetapkan kepada umat Muhammad sebagaimana Allah telah menetapkannya kepada umat-umat sebelum beliau . Allah berfirman

يَاأَيُّهَاالَّذِينَآمَنُواكُتِبَعَلَيْكُمُالصِّيَامُكَمَاكُتِبَعَلَىالَّذِينَمِنْقَبْلِكُمْلَعَلَّكُمْتَتَّقُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalianberpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa. (Qs. Al-Baqarah: 2/183). Syariat shiyam bagi umat Muhammad diturunkan pada tahun kedua Hijriyah.

  1. Beberapa Keutamaan Shyiam

  1. Shiyam merupakan salah satu rukun Islam yang agung. Rasulullah bersabda “Islam didirikan di atas lima pilar. Bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak untuk disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah , menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan serta melaksanakan haji”.44

  2. Pahala shiyam berlipat ganda dan hanya Allah Yang menghitung serta membalasnya. Rasulullah bersabda: Allah berfirman “Setiap amal anak cucu Adam adalah baginya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa adalah bagi-Ku. Dan Aku-lah Yang akan menentukan balasannya…”.45

  3. Dan terdapat dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa. Rasulullah bersabda “… Terdapat dua kebahagiaan bagi seorang yang berpuasa. Kebahagiaan pada saat ia berbuka. Dan kebahagiaan pada saat berjumpa dengan Allah (di akhirat kelak)…”46

  4. Shiyam berperan mengendalikan rayuan nafsu syahwat. Rasulullah bersabda “wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu untuk beristeri, maka hendaklah ia menikah. Karena sesungguhnya yang demikian dapat lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kehormatan. Dan barangsiapa yang belum mampu menikah, maka hendaklah ia berpuasa. Karena sesungguhnya puasa dapat menjadi pengekang (hawa nafsu) baginya”.47

  5. Allah menjanjikan ampunan dan pahala agung bagi hamba-Nya yang berpuasa. Sebagaimana yang Allah firmankan dalam Al-Qur’an. (Qs. Al-Ahzab: 33/35)

  6. Shiyam dapat menghantarkan pelakunya ke dalam surga. Suatu hari Abu Umamah berkata “Duhai Rasulullah , tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkan diriku ke dalam surga?”. Rasulullah menjawab “Hendaklah engkau berpuasa. Tidak ada amalan yang setara dengannya”.48

  7. Allah mengkhususkan sebuah pintu surga hanya bagi hamba-hamba-Nya yang berpuasa. Rasulllah bersabda “Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pintu yang bernama Ar-Rayyan. Pada hari kiamat kelak orang-orang yang berpuasa akan masuk melewati pintu tersebut. dan tidak diperkenankan bagi selain mereka untuk masuk melewatinya. Kemudian diserukan “manakah orang-orang yang berpuasa?”. Selanjutnya mereka berdiri, dan tidak diperkenankan bagi selain mereka untuk masuk surga melewatinya. Manakala mereka telah masuk, maka ditutuplah pintu itu dan tidak ada seorang pun yang masuk surga melewatinya”.49

  8. Shiyam akan memberikan syafa`at bagi pelakunya di hari kiamat kelak. Rasulullah bersabda “Puasa dan Al-Qur’an memberi syafa`at bagi hamba di hari kiamat…”.50

  9. Shiyam adalah perisai dari siksa neraka. Rasulullah bersabda “puasa adalah perisai dari api neraka sebagaimana perisai salah seorang dari kalian dalam perang”.51

  10. Bau mulut seorang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada semerbak minyak kesturi.52

  1. Hikmah dan manfaat shiyam

Pastilah semua syariat Allah sarat hikmah dan manfaat. Dan puasa memberikan kebaikan jiwa, raga dan sosial antar sesama, di antaranya adalah:

  1. Shiyam meningkatkan ketakwaan.

  2. Shiyam mengokohkan sikap muraqabah (selalu merasa diawasi oleh Allah ) dan amanah menjalankan perintah Allah .

  3. Shiyam menguatkan kesabaran dalam mengekang hawa nafsu bisikan dan godaan setan.

  4. Shiyam membantu dalam menahan amarah dan sikap mudah memaafkan.

  5. Shiyam melahirkan kepekaan terhadap yang membutuhkan, melatih kelembutan hati serta mengasah kepedulian terhadap kaum lemah.

  6. Shiyam mempertajam ingatan kaum kaya akan limpahan nikmat Allah yang belum tentu dimiliki oleh orang lain.

  7. Shiyam mengajarkan kedisiplinan dan rasa cinta kasih serta mengikis kesombongan.

  8. Shiyam mendatangkan kesehatan tubuh dan mempersempit jalan setan.

  1. Syarat Wajib Shiyam Ramadhan

  • Islam.

  • Berakal.

  • Baligh. Anak kecil dianjurkan untuk mendapatkan pelatihan berpuasa dan menjalankannya bilamana dia mampu.

  • Mampu menjalankan puasa, tidak dalam keadaan sakit atau telah renta lanjut usia.

  • Mukim. Adapun musafir yang tengah melakukan perjalanan jauh, maka diperbolehkan baginya untuk menangguhkan puasanya.

  1. Adapun Syarat Sah Shiyam Ramadhan

  • Islam.

  • Akal sehat.

  • Tamyiz. Sehingga tidak sah puasa seorang bocah yang belum dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk.

  • Suci dari haid maupun nifas (bagi seorang muslimah).

  • Niat dalam menjalankan ibadah shiyam Ramadhan.

  1. Panduan Praktis Pelaksanaan Shiyam Ramadhan

  1. Niat. Hendaklah terlebih dahulu ditetapkan niat dalam hati untuk berpuasa di keesokan hari. Hal ini wajib dilakukan sebelum terbit fajar pada hari pelaksanaan puasa Ramadhan. Rasulullah bersabda

مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

barangsiapa tidak berniat puasa (Ramadhan) sebelum fajar, maka tidak sah puasanya”.53

  1. Makan sahur. Sangat dianjurkan bagi yang akan berpuasa untuk melakukan makan sahur. Bahkan Rasulullah memerintahkannya dan bersabda

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً

Bersahurlah, sesungguhnya terdapat berkah di dalam sahur”.54 Sahur adalah makanan yang penuh dengan keberkahan dan sangat dianjurkan untuk tidak ditinggalkan. Rasulullah bersabda

السَّحُوْرُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ، فَلاَ تَدَعُوْهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ، فَإِنّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ الْمُتَسَحِّرِيْنَ

Makan sahur adalah keberkahan, maka janganlah kalian meninggalkannya meskipun hanya minum seteguk air. Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang sahur”.55Adapun waktu sahur yang dituntunkan Nabi adalah mendekati waktu shalat subuh. Beliau mengakhirkannya hingga menjelang terbit fajar. Yakni seukuran lamanya seseorang membaca lima puluh ayat Al-Qur’an. Sebagaimana yang disampaikan oleh sahabat Anas bin Malik dari Zaid bin Tsabit ia berkata “kami pernah makan sahur bersama Nabi , selanjutnya beliau shalat. Aku bertanya “berapa lama jarak antara adzan dan sahur?” beliau menjawab “kira-kira seukuran (membaca) lima puluh ayat Al-Qur’an”.56

  1. Berbuka puasa. Sangat dianjurkan untuk segera berbuka puasa apabila telah tiba waktunya. Rasulullah bersabda

لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa”.57

  1. Pembatal Puasa, antara lain

  • Murtad (keluar dari agama Islam).

  • Makan, minum atau menghisap sesuatu baik yang bermanfaat maupun yang berbahaya seperti menghisap rokok, ganja dan lain-lain.

  • Mengkonsumsi apapun yang berfungsi seperti makanan dan minuman.

  • Jima` (menggauli istri).

  • Mengeluarkan mani dengan sengaja.

  • Muntah dengan disengaja.

  • Keluarnya darah haid atau nifas.

  1. I`tikaf

Yaitu berdiam diri di dalam masjid dalam rangka meningkatkan konsentrasi ibadah pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Lebih fokus mencari keutamaan pahala dan meraih malam lailatul qadar. Berdzikir, berdoa, membaca Al-Qur’an, shalat, mengkaji ilmu agama dan menjalankan ibadah lainnya. Aisyah bertutur menceritakan “apabila telah tiba sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, maka Rasulullah mengencangkan ikatan sarungnya, mengidupkan malamnya serta membangunkan keluarganya (untuk beribadah)”.58 Beliau melakukan i`tikaf sepanjang hayatnya hingga beliau meninggal dunia. Menanti kedatangan malam lailatul qadar di malam-malam ganjil pada sepuluh malam terakhir. Rasulullah bersabda “carilah lailatul qadar di malam ganjil pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan”.59 Beliau juga menjanjikan ampunan dari Allah bagi yang menghidupkannya dengan qiyamul lail. Rasulullah bersabda “…dan barangsiapa melakukan qiyamul lail di malam lailatul qadar dengan dasar keimanan dan mengaharap pahala dari Allah , maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.60 Malam agung ini lebih baik dan lebih utama dari seribu bulan. Allah menurunkan Al-Qur’an padanya. Para Malaikat turun pada malam yang penuh berkah ini. Malam kedamaian bagi setiap hamba yang taat kepada-Nya . Allah menyembunyikan kepastian waktu kehadiran lailatul qadar, dengan tujuan agar para hamba-Nya semakin banyak mendekatkan diri kepada-Nya . Barangsiapa dilimpahkan taufik oleh Allah , maka ia akan mendapatkannya. Namun barangsiapa melalaikannya, maka ia adalah hamba yang merugi.

Sungguh bahagia seorang hamba meraih malam yang lebih mulia dari seribu bulan

Di malam itu … letih raga ibadahnya, menghadirkan kenikmatan

Derai air mata beriring panjat doanya, mendatangkan kedamaian

Bersimpuh memohon ampun atas dosa dan kehilafan

Pasrah jiwa dan untaian harapannya, menanti asa ridha Rahman

Ya Allah … panjangkan umur hamba hingga waktu indah itu …

Ya Allah … izinkan hamba meraih malam mulia itu …

Ya Allah … mudahkanlah langkah hamba menggapai kebahagiaan itu …


Telah tiba Ramadhan sebagai ladang bagi hamba

Untuk mensucikan hati dari segala noda dan dosa

Tunaikanlah hak Ramadhan di setiap ucapan dan perbuatan

Jadikanlah sebagai bekal menuju hari pembalasan

Bilamana ada seorang yang menanam namun tidak mengairinya

Pastilah ia akan menyesal dan merugi di hari panennya

Menyambut Idul Fitri

  1. Menunaikan Zakat Fitrah

Setiap muslim wajib menunaikan zakat fitri untuk dirinya dan siapapun yang menjadi tanggungan nafkahnya. Sehingga bagi yang mampu (memiliki kecukupan), maka wajib atas dirinya untuk mengeluarkan zakat fitrah, sebesar satu shaa` yaitu empat mudd. Atau kurang lebih setakaran dua koma lima (2,5) kilogram makanan pokoknya. Bukan berupa uang tunai atau yang lainnya. Zakat ini ditunaikan sebelum pelaksanaan shalat idul fitri, boleh juga satu atau dua hari sebelumnya. Dan diberikan kepada kaum fakir miskin yang membutuhkan. Ibnu Abbas menyatakan bahwa “Rasulullah mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih (pensuci) bagi seorang yang berpuasa, baik dari kelalaian maupun perbuatan buruk lagi kotor, serta sebagai pemberian makanan kepada kaum fakir miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat idul fitri, maka zakat itu diterima. Namun barangsiapa yang menunaikannya setelah usai shalat idul fitri, maka itu hanyalah sedekah (biasa) di antara sedekah-sedekah lainnya”.61

  1. Melaksanakan Shalat `Ied

Setelah menyelesaikan bilangan shiyam selama satu bulan penuh, maka Allah mensyariatkan pelaksanaan Hari Raya Idul Fitri. Adapun tuntunan dalam melaksanakannya adalah sebagai berikut:

  1. Mengumandangkan takbir sejak terbenam matahari di hari terakhir bulan Ramadhan hingga keesokan hari ketika akan melaksanakan shalat `Ied.

  2. Mandi di hari pelaksanaan shalat `Ied.

  3. Menggunakan wewangian bagi kaum muslimin (pria) dan tidak bagi kaum muslimat (wanita).

  4. Mengenakan pakaian terbaik yang dimiliki, bersih dan suci sekalipun bukan pakaian baru.

  5. Makan beberapa butir kurma sejumlah bilangan ganjil sebelum beranjak menuju shalat.

  6. Berjalan kaki menuju tanah lapang tempat pelaksanaan shalat Idul Fitri. Dan berangkat serta kembali lagi dari jalan yang berbeda.

  7. Melaksanakan shalat `Ied secara berjamaah kemudian mendengarkan khutbah sang imam dengan seksama hingga selesai.

  8. Diperbolehkan menyampaikan ucapan selamat dan saling mendoakan kebaikan.

  1. Qadha Puasa Ramadhan kemudian Berpuasa 6 Hari di Bulan Syawwal

Apabila seseorang telah menyelesaikan bilangan puasa di bulan Ramadhan, maka dianjurkan baginya untuk melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawwal selain pada tanggal satu62 Syawwal. Rasulullah bersabda “barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian melanjutkannya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka seakan dia berpuasa satu tahun”.63 Namun apabila seseorang memiliki tanggungan puasa yang ditinggalkan di bulan Ramadhan, maka wajib atas dirinya untuk melaksanakannya di hari yang lain. Dianjurkan baginya untuk bersegera menunaikan kewajiban yang tertunda itu dan tidak mengabaikannya.

Jagalah lisanmu dari menyebut aib orang lain

Terdapat banyak aib pada dirimu dan manusia pun memiliki lisan

Panduan doa-doa

*) Doa Saat Berbuka Puasa64

ذَهَبَالظَّمَأُوَابْتَلَّتِالْعُرُوْقُوَثَبَتَالْأَجْرُإِنْشَاءَاللهُ

“Dahaga telah berlalu, urat-urat telah basah dan (semoga) Allah menetapkan pahala (puasa) Insya Allah”

*) Doa Qunut Witir65

اللّهُمَّ اهْدِنِي فِيْمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيْمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِيْ فِيْمَا أَعْطَـيْتَ، وِقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ، إِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ

“Ya Allah… berikan aku hidayah sebagaimana Engkau memberikan hidayah kepada orang lain. Lindungilah aku sebagaimana Engkau melindungi orang lain. Bimbinglah aku sebagaimana Engkau membimbing orang lain. Berkahilah bagiku pada apapun yang Engkau limpahkan kepadaku. Dan jagalah aku dari keburukan apapun yang telah Engkau tetapkan, sesungguhnya Engkau Maha menetapkan dan Engkau tidak dikalahkan (oleh siapapun). Tidak ada yang terhina di antara siapapun yang telah Engkau sayangi. Dan tidak akan menjadi mulia seorangpun yang memusuhi Engkau. Maha Perkasa lagi Maha Tinggi Engkau wahai Rabb kami”

*) Doa seusai shalat malam (witir)66

سُبْحَانَالْمَلِكِالْقُدُّوْسِ

“Maha Suci Allah Sang Penguasa dan Maha Mulia”

*) Doa yang dipanjatkan pada malam lailatul qadar67

اللّهُمَّإِنَّكَعَفُوٌّ(كَرِيْمٌ)تُحِبُّالْعَفْوَفَاعْفُعَنِّيْ

“Ya Allah… sesungguhnya Engkau Maha memberi ampun dan Maha Pengasih. Engkau menyukai maaf, maka ampunilah aku”

*) Doa yang disampaikan oleh sesama kaum muslimin sebagaimana dicontohkan oleh para Sahabat Nabi pada hari Idul Fitri68

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ

“Semoga Allah menerima (amal ibadah) dari kami dan dari anda sekalian”

*) Untaian Takbir di Hari `Ied69

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan bagi Allah segala pujian”

Demikian panduan praktis tentang Ramadhan. Semoga bermanfaat bagi diri penulis dan siapapun yang membacanya. Semoga Allah memberikan keikhlasan hati kepada kita semua.

WahaiRamadhanengkautelahberlalupergi

Entah kapan kita akan bersua kembali… ?

Aku takut Allah belum mengampuni…

Namun aku yakin Allah Maha menyayangi

Ya Allah… kembalikan kepada kami…

Menyambut Dzul Hijjah… Bulan Indah Penuh Berkah

Segalapuja bagi Allah Rabb semesta alam, Sang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Betapa indah segala kuasa-Nya, dan tak terhingga limpahan nikmat karunia-Nya. Shalawat beriring salam semoga senantiasa terhaturkan kepada Rasulullahsertakepada segenap pengikut beliau yang berpegangteguh di atas tuntunan ajarannya hingga akhir masa.

Saudaraku…

Tak sekejap matapun berlalu melainkan dengan anugerah dan nikmat Allah .Di antara kenikmatan tersebut adalah waktu yang menjadi kesempatan meraih pahala dan menggapai kemuliaan, kesempatanitu silih berganti mengiringi perjalanan kehidupan setiap hamba. Dalam setiap musim kebaikan, Allah menjadikan berbagai ibadah dapat semakin meninggikan derajat seorang muslim di sisi-Nya, dan Allah menjanjikan pahala yang tak terhingga. Dengandemikian, maka waktu demi waktu sarat dengan kemuliaan dan kebahagiaan yang hakiki. Tutur kata dan ucapan yang telah baik menjadi semakin lebih bermakna, amal shalih yang telah banyak dilakukan semakin lebih berkualitas, keikhlasan semakin teruji dan kesabaran dalam menjalankan ibadah semakin lebih terasah. Alhasil, setiap bagian waktu yang dilewati setiap hamba muslim akan selalu bermakna ibadah dan setiap sikap perbuatannya mewujudkan amal shalih dan ketaatan. Cermatilah, shalat lima waktu dalam perputaran satu hari satu malam, shalat jum`at di setiap pekan, shaumhari senin dan hari kamis di setiap pekan, shaumtiga hari putih di pertengahan setiap bulan, shaumselama satu bulan Ramadhan yang dilanjutkan dengan anjuran shaumenam hari di bulan Syawwal di setiap tahun, serta ibadah-ibadah kaya pahala di hari-hari mulia bulan Dzul Hijjah. Dan demikian seterusnya kesinambungan amal shalih yang menjadi kesempatan bagi setiap muslim untuk menggapai kemuliaan di sisi Allah .

Danternyata tidak hanya ini saja, ada pula haji dengan beragam manasiknya, ada ibadah umrah, shaumhari arafah bagi selain pelaksana ibadah haji dan shaumhari `asyura. Demikian pula zakat wajib, anjuran berinfaq, bersedekah dan berbagi kedermawanan, menegakkanamar ma`ruf nahi munkar baik dengan ucapan maupun tindakan arif bijaksana, dan masih banyak lagi jenis ketaatan serta ibadah lain yang pastinya akan menghiasi setiap langkah kehidupan setiap muslim. Allah berfirmanفَإِذَافَرَغْتَفَانْصَبْ*وَإِلىرَبِّكَفَارْغَبْ,yangartinya “Apabilaengkau telah usai (dari sebuah amal kebaikan), maka beralihlah dengan sungguh-sungguh (menuju amal kebaikan lainnya) * Dan hanya kepada Rabb-mu hendaklah engkau berharap, (QS. Asy-Syarh:94/6-7).

Idul Adhaadalah salah satu hari raya di antara dua hari raya kaum muslimin, dan merupakan rahmat Allah bagiummat Muhammad .Hal ini diterangkan dalam hadits Anas beliau berkata Dahulu penduduk Madinah pada zaman jahiliyyah memiliki dua hari raya di setiaptahun yang menjadi masa mereka bermainbersukaria padanya, maka tatkala Nabi tiba di Madinah beliau bersabda: Dahulu kalian memiliki dua hari raya yang kalian bermain dan bersuka ria padanya, sungguh Allah telahmenggantikan keduanya dengan dua hariraya yang lebih baik dari keduanya; hari Fitri dan hari Adha”.70

Maka dalam rangka menyambut kemuliaan bulan Dzul Hijjah ini, berikut penulis bawakan beberapa hal yang semoga dapat menjadi panduan singkat sederhana dalam meraih berbagai pahala ibadah mulia di bulan Dzul Hijjah.

Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzul Hijjah

  1. Allahmenjadikannyasebagai hari-hari yang maklum (telah ditentukan)

Allahberfirman

وَأَذِّنْفِيالنَّاسِبِالْحَجِّيَأْتُوكَرِجَالاًوَعَلَىكُلِّضَامِرٍيَأْتِينَمِنْكُلِّفَجٍّعَمِيقٍ* لِيَشْهَدُوامَنَافِعَلَهُمْوَيَذْكُرُوااسْمَاللَّهِفِيأَيَّاممَعْلُومَاتٍ

Dan serukanlah kepada manusia untuk mengerjakan ibadah haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki maupun dengan mengendarai unta kurus dan datang dari segenap penjuru nan jauh * Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan agar mereka berdzikir menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan”, (QS. Al-Hajj: 22/27-28). IbnuAbbas, Abu Musa Al-Asy`ari dalam tafsir ayat ini bertutur mengatakan “hari-hariyang maklum itu ialah sepuluh hari (pertama)bulan Dzul Hijjah.71Demikianpula Al-Bukhari membawakan riwayat Ibnu Abbas ini dalam kitab shahihnya.72

  1. Allahbersumpah dengan malam-malam sepuluh hari pertama bulanDzulHijjah

Yangdemikian ini menunjukkan bahwa hari-hari tersebut memiliki keistimewaandi sisi-Nya. Allah berfirmanوَالْفَجْرِ*وَلَيَالٍعَشْرٍ,artinyaDemifajar * Dan demi sepuluh malam, (QS. Al-Fajr: 89/1-2).

Ath-Thabari berkata “danyang benar tentang tafsir ayat ini adalahsepuluhhari (pertama) bulan Dzul Hijjah, sebagaimanakesepakatan dasarpenetapan tafsir tersebut dari paraahli tafsir.73Ibnu Katsir rahimahullah menguatkanungkapan itu dan menyampaikan bahwa sesungguhnya hal tersebut merupakan tafsir Ibnu Abbas, Ibnu Az-Zubair, Mujahid, dan selain mereka di antara para ulama ahli tafsir.74

  1. Amalshalih yang dilakukan di sepanjang sepuluh hari bulan Dzul Hijjah lebih dicintai oleh Allah daripada di waktu-waktu selainnya

Rasulullahmengabarkan hal ini dalam sabda beliau

مَامِنْأيَّامٍالْعَمَلُالصَّالِحُفِيْهَاأَحَبُّإِلَىاللهِمِنْهَذِهِالْأيَّامِ(يَعْنِيأيَّامَالْعَشْرِ).قَالُوْا:يَارَسَوْلَاللهِ،وَلَاالْجِهَادُفِيسَبِيْلِالله؟قَال:وَلَاالْجِهَادُفِيسَبِيْلِالله،إِلَّارَجُلٌخَرَجَبِنَفْسِهِوَمِالِهِفَلَمْيَرْجِعْمِنْذلِكَبِشَيْءٍ

Tidak adahari-hari yang pada waktu itu amal shalihlebih dicintai oleh Allah melebihi sepuluh hari pertama (dibulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tidak pula jihad di jalan Allah (melebihi keutamaannya)?” Beliau melanjutkan, “Tidak pula jihad di jalan Allah (melebihi keutamaannya), kecuali seorang yang keluar (berjihad di jalan Allah)dengan jiwa raga dan hartanya kemudian ia tidak kembali dengan semua itu sedikitpun”.75

Para ulama menjelaskan kandungan makna hadits di atas, bahwa Allah melebihkan keutamaan suatu waktu tertentu di atas waktu lainnya, dan Dia mensyariatkan padanya berbagai ibadah serta amal shalih untuk mendekatkan diri kepada-Nya.76 Hadits di atas menunjukkan bahwa semua amal shalih yang dilakukan di sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah lebih Allah cintai daripada apabila amal shalih tersebut dilakukan di selain bulan Dzul Hijjah, sehingga menjadi lebih afdhal serta dijanjikan pahala yang berlipat. Dan amal shalih dalam hadits ini bersifat umum, termasuk shalat, sedekah, puasa, berzikir, membaca Al-Qur’an, berbuat baik kepada orang tua dan sebagainya.77

  1. Sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah merupakan sebaik-baik hari di dunia ini

Rasulullahbersabda

أَفْضَلُأَيَّامِالدُّنْيَاأَيَّامِالْعَشْرِيَعْنِيْعَشْرَذِيالْحِجَّةِقِيْلَ:وَلَامِثْلُهُنَّفِيسَبِيْلِاللهِ؟قَالَ:وَلَامِثْلُهُنّفِيْسَبِيْلِاللهِإِلَّارَجُلٌعُفِرَوَجْهَهُبِالتُّرَابِ

Sebaik-baikhari di dunia ialahhari-hari sepuluh (yakni sepuluh hari pertama dalam bulan Dzul Hijjah). Ditanyakan kepada Rasulullah “tidak pula sama baiknya dengan (jihad) di jalan Allah?”. Beliau menjawab “tidak pula sama dengan (jihad) di jalan Allah melainkan seorang pria yangwajahnya penuh dengan debu tanah.78

  1. Pada sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah terdapat hari Arafah yang agung

Tentangkeagungan hari Arafah Rasulullah bersabda

مَامِنْيَوْمٍأَكْثَرمِنْأَنْيُعْتِقَاللهُعَزَّوَجَلَّفِيْهِعَبْداًمِنَالنَّارِمِنْيَوْمِعَرَفَةَ،وَإِنَّهُلَيَدْنُوثُمَّيُبَاهِيبِهِمُالْمَلَائِكَة،فَيَقُوْل:مَاأَرَادَهَؤُلَاء؟

Tiadahari yang padanya Allah lebihbanyak membebaskan para hamba dari api neraka melebihi hari Arafah. Sesungguhnya Allah mendekatkemudian membanggakan mereka di hadapan para Malaikat seraya berfirman “Apakah yang diinginkan oleh mereka?.79

  1. Padasepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah juga terdapat hari Nahryakni hari penyembelihan kurban

Tentangkeagungan hari NahrRasulullah bertuturmengatakan

إِنَّأَعْظَمَالْأَيَّامِعِنْدَاللهِتَبَارَكَوَتَعَالَىيَوْمُالنَّحْرِ،ثُمَّيَوْمَالْقَرِّ

Sesungguhnyahari yang paling agung di sisi Allah ialahhari Nahr, kemudian hari Al-Qirr”.80HariAl-Qirrartinya hari menetap yakni padatanggal 11 Dzul Hijjah pada saat jama`ah haji menetap di Mina.

  1. Pada sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah berkumpul pilar ibadah yang utama

Al-HafizhIbnu Hajar berkata “Nampaknya,sebab yang menjadikan sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah istimewa adalah karena padanya terkumpul pilar-pilar ibadah yang utama, yaitu: shalat, puasa, sedekah dan haji, yang (semua) ini tidak terdapat pada hari-hari yang lain.81

  1. Sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah memiliki keistimewaan sebagaimana halnya sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan

Bilamanaseseorang bertanya, “manakah yang lebih afdhal(utama); sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan ataukah sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah?”, maka sesungguhnya Imam Ibnu Al-Qayyim pernah menjelaskan dan berkata “Makayang benar ialah, bahwa malam-malam sepuluh hari terakhir bulan Ramdhan lebih afdhal dan utama dari malam-malam sepuluh hari Dzul Hijjah. Dan hari-hari sepuluh awal bulan Dzul Hijjah lebih afdhal lagi utama daripada hari-hari sepuluh terakhir bulan Ramadhan …. yang menguatkan hal ini ialah, bahwa malam-malam sepuluh hari terakhir bulan Ramdhan menjadi lebih istimewa dengan keberadaan malam lailatul qadar. Sementara hari-hari sepuluh awal bulan Dzul Hijjah menjadi lebih istimewa dengan keberadaan hari-hari mulia seperti hari Nahr (kurban), hari Arafah dan hari Tarwiyah..82Wallahu A`lam

YaTuhanku,anugerahkanlahkepadaku(seoranganak)yangtermasukorang-orangyangsaleh.MakaKamiberidiakabargembiradenganseoranganakyangamatsabar.DantatkalaanakitubarusajamulaiberanjakdewasaberadabersamaIbrahim,Ibrahimberkatakepadanya:“wahaianakkusesungguhnyaakumelihatdalammimpibahwaakumenyembelihmu.Makafikirkanlahapapendapatmu!?”Isma`ilmenjawab:“wahaiAyahandaku,lakukanlahapayangdiperintahkanolehAllahkepadaengkau;insyaAllahengkauakanmendapatikutermasukorang-orangyangsabar”.DisaatkeduanyatelahberserahdiridanIbrahimmembaringkananaknyadiataspelipis(nya).(QS.Ash-Shafat:37/100-103)

DalamtafsirAl-QurthubidanAl-BaghawidisebutkanriwayatIbnuAbbas,beliauberkata:

IbrahimdanIsma’ilkeduanyataat,tundukpatuhterhadapperintahAllahIngatlah,renungkanlahkisahituketikakeduanyaakanmelaksanakanperintahAllahdengantulusdantabah,

Isma`ilberkata:

WahaiAyahku,kencangkanlahikatankuagarakutaklagibergerak

WahaiAyahku,singsingkanlahbajuengkauagardarahkutidakmengotoribajumumakaakanberkurangpahalaku,ataujikanantiBundamelihatbercakdarahituniscayabeliauakanbersedih

DantajamkanlahpisauAyahsertapercepatlahgerakanpisauitudileherkuagarterasalebihringankarenasungguhkematianituamatdahsyat

WahaiAyah,apabilaengkautelahkembalimakasampaikansalamkasihkukepadaBunda,danapabilabajukuiniAyahpandangbaikuntukdibawapulangmakalakukanlah

Saatitu,denganpenuhharuIbrahimberkata:

Wahaianakku,sungguhengkauadalahanakyangsangatmembantudalammenjalankanperintahAllah

Dengan Apakah Kita Menyambut
Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzul Hijjah ?

Selayaknyabagi setiap hamba muslim untuk menyambut musim bahagia yang sarat kemuliaan ini dengan bertaubat kepada Allah dan menjauhkan diri dari dosa dan maksiat. AgarAllah memberikankemudahan untuk beramal shalih dengan taufiq-Nya. Allah berfirman

وَتُوبُواإِلَىاللَّهِجَمِيعاًأَيُّهَاالْمُؤْمِنُونَلَعَلَّكُمْتُفْلِحُونَ

Danbertaubatlah kalian kepada Allah wahaikaum mukminin seluruhnya semoga kalian mendapatkan keberuntungan. (QS. An-Nur: 24/31)

وَسَارِعُواإِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Danbersegeralah menuju ampunan dari Rabb kalian, serta menuju surga yang luasnya adalah lapisan langit dan bumi yang telah dipersiapkan untuk kaum yang bertakwa (QS. Ali `Imran: 3/133).

Selain bertaubat, hendaknya ia bertekad kuat, bersemangat serta bersungguh-sungguh dalam menjalankan ketaatan kepada Allah ,beramal shalih guna meraih kebahagiaan di musim yang penuh kemuliaan ini. Allah berfirman

وَالَّذِينَجَاهَدُوافِينَالَنَهْدِيَنَّهُمْسُبُلَنَاوَإِنَّاللَّهَلَمَعَالْمُحْسِنِينَ

Dan mereka yang bersungguh-sungguh dalam (menggapai ridha) Kami, maka sungguh akan Kami tunjukkan kepadanya jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah bersamaorang-orang yang berbuat baik”(QS. Al-`Ankabut: 29/69).

إِنَّهُمْكَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

Sesungguhnyamereka adalah orang-orang yang bersegera dalam menjalankan amal kebaikan dan mereka berdoa dengan rasa harap lagi cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu` (tunduk) kepada Kami (QS. Al-Anbiya: 21/90).

Amalan Yang Dianjurkan Untuk Dilakukan Di Bulan Mulia Dzul Hijjah

Sebelummemasuki poin-poin amalan-amalan bulan mulia ini, mari kita mengingat bersama sabda Nabi kita tercinta Muhammad

اِفْعَلُوْا الْخَيْرَ دَهْرَكُمْ، وَتَعَرَّضُوْا لِنَفَحَاتِ رَحْمَةِ اللهِ، فَإنَّ للهِ نَفَحَاتٍ مِنْ رَحْمَتِهِ يُصِيْبُ بِهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَسَلُوا اللهَ أَنْ يَسْتُرَ عَوْرَاتِكُمْ وَأَنْ يُؤْمِنَ رَوْعَاتِكُمْ

Berbuatbaiklah di sepanjang masa kalian. Bersiap dan sambutlah hembusan rahmat kasih sayang Allah .Sesungguhnya Allah memiliki hembusan-hembusan pada rahmat dan kasih-Nya, yang akan diraih oleh para hamba yang dikehendaki-Nya. Dan memohonlah kepada Allah agarmenutup aurat (keburukan) kalian dan menentramkan kalian dari rasa takut dan kecemasan.83

Abu Utsman An-Nahdi berkata “Kaumsalaf adalah orang-orang yang mengagungkan tiga macam bilangan sepuluh hari; sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah, dan sepuluh hari pertama bulan Muharram.84

Adapun amalan-amalan shalih yang disyariatkan dan sangat dianjurkan untuk dilakukan di bulan mulia Dzul Hijjah adalah sebagai berikut :

  1. Menunaikan ibadah haji dan umroh

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَة كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

Nabibersabda “Satuumrah kepada umrah berikutnya merupakan penghapus dosa yang dilakukan di antara keduanya. Dan haji yang mabrur tidak ada balasan setimpal baginya selain surga.85Ibnu Rajab berkata “SetelahAllah menyematkanpada kalbu setiap mukmin kerinduan yang mendalam untuk menyaksikan albaitul haram (rumah-Nya yang suci), dan ternyata tidak setiap orang mampu untuk melakukannya di setiap tahun, maka Allah mewajibkanibadah haji bagi hamba yang mampu satu kali selama hidupnya. Kemudian Allah menjadikanmusim kebaikan pada sepuluh hari pertama (bulan Dzul Hijjah) yang dapat diraih oleh para pelaksana ibadah haji maupun orang-orang yang tidak melaksanakannya.86

  1. Melakukanshaumsesuai kemampuan, terutama pada hari Arafah (9 Dzul Hijjah) bagi yang tidak melaksanakan ibadah haji 87

Shaummerupakan ibadah yang sangat istimewa di sisi Allah .Allah menjanjikanbalasan yang tak terhingga terhadap shaumdan hanya Allah sajalah yang melipat gandakannya. Allah berfirmandalam sebuah hadits qudsi

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

Semuaamalan anakAdam adalah untuknya, kecuali shaum. Sesungguhnya shaum adalah milik-Ku dan Aku Yang akan membalasnya.88

Demikian pula Rasulullah bersabda

مَا مِنْ عَبْدٍ يَصُومُ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا بَاعَدَ اللَّهُ بِذَلِكَ الْيَوْمِ وَجْهَهُ عَنْ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا

“Tidaklahseorang hamba berpuasa satu hari di jalan Allah, melainkan Allah akanmenjauhkan wajahnya dari neraka selama tujuh puluh tahun”(yakni jarak tempuhperjalanan selama tujuh puluh tahun disebabkan puasanya).89Adapunpada tanggal 10 Dzul Hijjah, maka terdapat kekhususan larangan puasa pada hari tersebut.90

Terkhusustentang shaumhari Arafah, sebagian isteri Nabi bersaksi menyampaikan bahwa sesungguhnya Rasulullah berpuasa pada hari kesembilan bulan Dzul Hijjah, dan pada hari `Asyuraserta pada tiga hari (putih) di setiap bulan.91Shaumpada hari Arafah memiliki keistimewaan yang luar biasa. Rasulullah bersabda

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ

Akuberharap kepada Allah agarshaum pada hari Arafah menghapuskan (dosa-dosa) selama satu tahun lalu dan satu tahun berikutnya.92Karenanya Imam An-Nawawi membawakan hadits ini dalam judul “Anjuran shaumpada hari Arafah”.93

  1. Menjagapelaksanaan shalat lima waktu dan meningkatkan shalat Nafilah

Sebabsemua amalan nafilahtermasuk shalat-shalat nafilahmerupakan salah satu ibadah yang sangat mulia di sisi Allah .Dalam hadits qudsi Allah berfirman

وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِل حَتَّى أُحِبَّهُ

Danhamba-Ku senantiasa mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan ibadah nafilah (sunnah) sehingga Aku mencintainya.94

  1. Bertakbir,bertahmid serta bertahlil memuji Allah

IbnuUmar dan Abu Hurairah ,mereka berdua pergi menuju pasar pada sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah untuk menggemakan takbir pada khalayak ramai, lalu orang-orang mengikuti takbir mereka berdua.95DahuluUmar bertakbir di dalam tenda beliau di Mina sehingga seluruh orang yang berada di masjid mendengarnya lantas mereka pun bertakbir, kemudian selanjutnya ikut bertakbir pula orang-orang yang berada di pasar sehingga Mina (seakan) bergetar dengan semarak alunan gema takbir. Demikian halnya Ibnu Umar bertakbir di Mina di sepanjang hari-hari itu dan di setiap usai shalat (fardhu), di atas kasur beliau, di dalam tendanya, di setiap duduk dan berjalan.96

Sehingga,sangat dianjurkan bagi setiap pria muslim untuk mengeraskan alunan suara takbir di hari-hari ini. Namun, dengan menghindari takbir secara bersama-sama sebab Nabi ,para sahabat serta generasi Salaf Shalih terdahulu tidak melakukannya. Mereka menggemakan takbir sendiri-sendiri. Dan inilah cara yang disyari’atkan pada setiap dzikir dan doa, terkecuali bila ada yang belum mengetahuinya, maka boleh dituntun bacaannya secara bersama-sama dengan tujuan untuk mengajarkan. Dan apabila mereka telah mengetahuinya, maka masing-masing menggemakan takbir sendiri-sendiri. Adapun para wanita muslimah, maka mereka tidak dianjurkan untuk mengeraskan suara pada saat mengucapkan takbir.

Bacaan Takbir

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Mas`ud bertakbir di hari-hari Tasyriq seraya menggemakan

اَللَّهُأَكْبَرُالَّلهُأَكْبَرُلَاإِلَهَإِلاَّاللَّهُوَالَّلهُأَكْبَرُاَلَّلهُأَكْبَرُوَلِلَّهِالْحَمْدُ

Yakni dengan dua kali takbir, namun boleh dengan mengulangi takbir yang pertama sebanyak tiga kali, namun yang masyhur dari Ibnu Mas`ud adalah bahwa dengan dua kali takbir.97

Terdapat dua macam takbir yang disyariatkan untuk dikumandangkan

Pertama: TakbirMutlak

Yaitutakbir yang disyari’atkan untuk dilantunkan pada setiap saat di sepanjang malam dan siang hingga pelaksanaan shalat Ied tiba.

Kedua:TakbirMuqayyad

Yaknitakbir yang disyariatkan untuk dilakukan di setiap usai shalat fardhuberjama`ah. Bagi yang tidak melaksanakan ibadah haji, waktu takbir muqayyadini dimulai sejak fajar hari Arafah hingga tiba waktu shalat ashar pada hari Tasyriqyang terakhir (ketiga). Sedangkan bagi mereka yang tengah melaksanakan ibadah haji, maka waktunya di mulai semenjak usai shalat zhuhur hari qurban (10 Dzul Hijjah) hingga tiba waktu shalat ashar pada hari Tasyriqyang terakhir.

  1. Memperbanyaksedekah

Sesungguhnyaanjuran bersedekah berlaku di setiap waktu. Namun, anjuran ini semakin ditekankan pada saat-saat mulia termasuk pada bulan Dzul Hijjah. Allah berfirman

يَاأَيُّهَاالَّذِينَآمَنُواْأَنفِقُواْمِمَّارَزَقْنَاكُممِّنقَبْلِأَنيَأْتِيَيَوْمٌلاَّبَيْعٌفِيهِوَلاَخُلَّةٌوَلاَشَفَاعَةٌوَالْكَافِرُونَهُمُالظَّالِمُونَ

Wahaiorang-orang yang beriman, infakkanlah sebagian dari (harta) yang telah Kami limpahkan kepada kalian sebelum tiba suatu hari yang tidak ada padanya perniagaan, tidak pula ada persahabatan yang akrab serta tidak ada pula syafa`at. Dan orang-orang yang kafir mereka itulah yang berbuat zhalim (QS. Al-Baqarah: 2/254). Lebih lanjut Rasulullah bersabda “Tidaklahpara hamba berada di pagi hari melainkan akan turun dua Malaikat. Salah satu dari keduanya memanjatkan doa “Ya Allah, berikanlah ganti bagi yang berinfak”. Sementara yang lain berdoa “Ya Allah, berikanlah kebinasaan bagi yang bakhil (tidak berinfak).98Demikian halnya Rasulullah menegaskan “Tidakakan berkurang harta seseorang dengan bersedekah .99

  1. Berkurban

Berkurbanmerupakan salah satu ibadah luhur yang sangat dianjurkan untuk dilakukan pada bulan Dzul Hijjah, tepatnya pada tanggal 10 (hari Nahr)dan pada hari-hari Tasyriqyakni tanggal 11, 12 dan 13 Dzul Hijjah. Berkurban merupakan contoh yang dilakukan Nabi Ibrahim tatkala menyembelih putranya bernama Ismail ,lantas Allah menebuspengorbanan beliau dengan seekor kambing yang besar.100Kemudian Rasulullah menetapkan kurban sebagai bagian dari tuntunan bagi umat beliau dalam syariat agama Islam. Telah diriwayatkan bahwa Nabi berkurban dengan dua ekor kambing jantanyang keduanya berwarna putih bercampur hitam dan bertanduk,beliau menyembelihnya dengan kedua tangan beliau sendiri. Beliau menyebut nama Allah danbertakbir sambil meletakkan kaki beliau di atas sisi tubuh kedua kambing tersebut.101

  1. Sangat dianjurkan untuk bersemangat dalam melaksanakan shalat Idul Adha

Bersungguh-sungguhdalam pelaksanaannya, mendengarkan khutbah Ied
dengan
seksama agar dapat mendulang ilmu dari khutbah tersebut serta
menuai
pahala dari pelaksanaan shalatnya.

Pada dasarnya, tuntunan pelaksanaan shalat Idul Fitri dan shalat Idul Adha adalah sama.102Namun terdapat beberapa perbedaan di antara keduanya, yaitu sebagai berikut:

  1. Waktuuntuk mengemakan takbir pada Idul Adha lebih lama,yakni sejak waktu fajar hari Arafah hingga menjelang waktu shalat ashar di akhir Hari Tasyriq(13 Dzul Hijjah). Adapun pada saat Idul Fitri, takbir di mulai sejak malam Ied hingga menjelang pelaksanaan shalat Ied.

  2. Dianjurkanagar waktu pelaksanaan shalat Idul Adha lebih awalagar dapat segera dilanjutkan dengan prosesi penyembelihan kurban. Sementara pada pelaksanaan shalat Idul Fitri dianjurkan untuk tidak tergesa-gesa, agar dapat memberikan kesempatan bagi mereka yang hendak membayar zakat fitrah.

  3. Padasaat Idul Adha dianjurkan untuk tidak makan kecuali setelah shalat Idul Adha usai.Sedangkan pada saat Idul Fitri dianjurkan untuk makan terlebih dahulu sebelum shalat Ied.

Perumpamaan(hartasedekahdari)orang-orangyangmenafkahkanhartanyadijalanAllahadalahserupadengansebutirbenihyangmenumbuhkantujuhbulir,padatiap-tiapbulirterdapatseratusbiji.Allahmelipatgandakan(ganjaran)bagisiapayangDiakehendaki.DanAllahMahaLuas(karunia-Nya)lagiMahaMengetahui.(Al-Baqarah:2/261)

Panduan Praktis Dalam Berkurban

  1. Definisi

Dhahiyyahatau Udhhiyahmerupakanistilah yang diberikan kepada hewan kurban baik berupa unta, sapi ataupun kambing yang disembelih pada hari Idul Adha (10 Dzul Hijjah) serta tiga hari Tasyriqberikutnya (11, 12, 13 Dzul Hijjah) dalam rangka beribadah kepada Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Danoleh sebab itulah kemudian hari raya yang agung ini disebut sebagai Idul Adha yang berarti hari raya kurban.

  1. Syariat Penyembelihan Udhhiyah

Allahmenetapkanhari raya Idul Adha sebagai hari raya kurban dalam syariat Islam. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam beberapa landasan hukum:

  1. Dalil Al-Qur’an

Allahberfirmanفَصَلِّلِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah” (QS.Al-Kautsar: 108/2)

Paraahli tafsir seperti Ibnu Abbas ,`Atha’, Mujahid, Ikrimah Al-Hasan danyang lainnya menyatakanbahwa yang dimaksud dengan berkurban dalam ayat ini adalah menyembelih udhhiyah,yakni yang dilakukan seusai pelaksanaan shalat Ied.103

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menguraikan tafsir ayat di atas seraya mengatakan104“Allah memerintahkan Rasulullah untuk mengumpulkan dua ibadah yang agung ini; yaitu shalat dan menyembelih kurban yang menunjukkan sikap mendekatkan diri kepada Allah , tawadhu’, merasa butuh kepada-Nya, berprasangka baik, berkeyakinan kuat dan penuh rasa damai hati kepada Allah , terhadap janji, perintah, serta keutamaan-Nya.” Demikian pula Syaikh Muhammad bin Al-Amin Asy-Syinqithi menegaskan: “Tidak samar lagi bahwa menyembelih hewan qurban masuk dalam keumuman ayat وَانْحَرْ.105

Juga keumuman firman Allah :

وَالْبُدْنَجَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوْبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ

“Dan Kami telah menjadikan untuk kalian unta-unta sebagian dari syiar Allah , kalian memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah oleh kalian nama Allah pada saat kalian menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan berilah makan orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yakni tidak meminta-minta) serta orang yang meminta”. (QS. Al-Hajj: 22/36)

Dalamayat lain Allah berfirman

قُلْإِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Katakanlah,sesungguhnya shalatku, ibadahku, serta hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Rabbsemesta alam (QS. Al-An`am: 6/162). Mujahid dan Sa`id bin Jubair menyatakan bahwa berarti sembelihanku.106

  1. Dalil As-Sunnah

Anasbin Malik meriwayatkan bahwa Nabiberkurbandengan dua ekor domba jantan yang keduanya berwarna putih bercampur hitam dan bertanduk. Beliau menyembelihkeduanya dengan tangan beliau sendiri sambil menyebut nama Allah danbertakbir.107

  1. Dalil Ijma’ (kesepakatan para Ulama akan syariat kurban)

IbnuQudamah Al-Maqdisiy menyatakan bahwa seluruh kaum muslimin telah bersepakat tentang disyariatkannya berkurban pada bulan Dzul Hijjah ini.108

  1. Hukum Berkurban dan Keutamaannya

Hukumberkurban udhhiyahadalah sunnahmuakkadahyakni sangat ditekankan, bahkan sebagian ulama mewajibkannya bagi yang mampu. Olehkarena itu, tidaklah sepantasnya bagi seseorang yang mampu melakukannya namun ia meninggalkannya.109

Tidak ada hadits dengan riwayat yang shahih tentang keutamaan berkurban, namun sangat nampak kesungguhan Nabi dalam menuntunkan ibadah ini melalui semua ragam bimbingan beliau ; baik melalui ucapan, amalan maupun penetapan.110 Sehinggapara ulama telah bersepakat bahwa berkurban adalah ibadah yang afdhal(paling utama) dikerjakan pada hari itu.

Imam Ibnu Qudamah berkata “Nabitelah melakukan kurban, demikian pula para khalifah sesudah beliau. Seandainya bersedekah biasa lebih afdhal, tentu mereka telah melakukannya. Dan beliau juga berkata “Mengutamakansedekah atas udhhiyah akan mengakibatkan ditinggalkannya sunnah Rasulullah .111Wallahu A’lam

  1. Hikmah Berkurban

  1. Mendekatkandiri kepada Allah

  2. Menghidupkansunnah Nabi Ibrahim dan semangat pengorbanannya, serta menjalankan tuntunan Nabi Muhammad

  3. Berbagisuka dan bahagia bersamakeluarga, kerabat, dan kepada fakir miskin

  4. Mewujudkan bukti ungkapan syukur kepada Allah atas karunia-Nya

  5. Dan hikmah-hikmah lainnya

Rasulullah bersabda :

Ketahuilah sesungguhnya hari-hari ini adalah hari-hari makan, minum serta berdzikir kepada Allah”.112

  1. Waktu Penyembelihan Kurban

Waktuyang disahkan bagi seseorang yang hendak menyembelih hewan kurban ialah setelah usai pelaksanaan shalat Idul Adha. Nabi bersabda “Barangsiapayang menyembelih sebelum shalat (Ied), maka itu hanyalah bernilai pemotongan daging bagi keluarganya saja dan bukanlah disebut kurban sedikitpun.113Dalam riwayat lain NabibersabdaBarangsiapayang menyembelih sebelum shalat, maka ia menyembelih untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang menyembelih setelah shalat, maka telah sempurna ibadahnya dan bersesuaian dengan sunnah kaum muslimin.114Apabila seseorang telah menyembelih hewan kurbannya sebelum shalat, maka wajib atas dirinya untuk menggantikannya dengan hewan sembelihan lain yang disembelih setelah usai shalat. Rasulullah bersabdaBarangsiapayang telah menyembelih hewan kurbannya sebelum shalat, maka hendaklah ia menyembelih hewan kurban lain sebagai penggantinya.115Waktupenyembelihan berakhir pada saat terbenamnya matahari di hari Tasyriqyang terakhir tanggal 13 Dzul Hijjah. Rasulullah bersabda “Dansemua hari-hari Tasyriq ialah (hari-hari) penyembelihan kurban.116Dengan demikian, waktu penyembelihan kurban berlangsung selama empat hari yaitu tanggal 10, 11, 12, dan 13 Dzul Hijjah.

  1. Jenis-jenis Hewan Kurban

Hewanudhhiyahtidak sah kecuali pada unta, sapi dan kambing. Allah berfirman

لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ

Agarmereka mengingat Allah terhadaprizki yang dikaruniakan kepada mereka dari hewan-hewan ternak (QS. Al-Hajj: 22/34).

Adapun jenis-jenis hewan kurban yang sah untuk disembelih adalah :

  1. Unta yang telah berusia minimal 5 tahun

  2. Sapi yang telah berusia minimal 2 tahun

  3. Kambing biasa yang telah berusia minimal 1 tahun

  4. Anak domba yang telah berusia minimal setengah tahun

Kurban berupa satu ekor kambing hanya untuk satu orang, dan diperbolehkan kurban satu ekor sapi dan unta untuk tujuh orang. Jabir bin Abdillah berkata “kamitelah berkurban bersama Rasulullah pada tahun Hudaibiyah berupa satu ekor unta untuk tujuh orang, dan satu ekor sapi juga untuk tujuh orang.117

  1. Ragam Aib Hewan Kurban Udhhiyah

Merupakansyarat mutlak pada hewan udhhiyahagar terbebas dari aib atau cacat. Di antara hewan udhhiyahyangdianggap cacat yaitu sebagai berikut :

  1. Yang buta dan jelas kerusakan penglihatannya sekalipun kedua mata masih ada

  2. Yang patah tanduknya maupun yang terputus sama sekali hingga pangkalnya

  3. Yang sobek melebar di bagian depan maupun belakang telinganya, atau terbakar telinganya, atau cacat sehingga terlihat pangkal telinganya

  4. Yang tidak dapat mengikuti kawanan kambing lainnya karena sakit atau lemah

  5. Termasuk aib pada hewan udhhiyahjugaialah hewan yang sangat kurus sehingga tidak bersumsum, pincang dan jelas kepincangannya, tanggal sebagian giginya, terpotong ekor atau kemaluannya118

Rasulullah bersabda

أَرْبَعَةٌ لَا تُجْزِئُ فِي الأَضَاحِي؛ الْعَوْرَاءُ الْبَيِّنُ عَوْرُهَا، وَالْمَرِيْضَةُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا، وَالْعَرْجَاءُ الْبَيِّنُ ضَلْعُهَا، وَالْعَجْفَاءُ الَّتِي لَا تُنْقِيْ

Adaempat macam hewan kurban yang tidak mencukupi; yang rusak mata dan jelas kerusakannya, yang sakit dan jelas sakitnya, yang pincang dan jelas kepincangannya, serta yang sangat kurus seakan tidak tersisa sumsumnya.119

  1. Doa yang Dibaca Saat Menyembelih

بِسْمِاللهِاللهُأَكْبَرُ

Bismillahi Allahu Akbar” (Dengan nama Allah, Allah Yang Maha Besar)

Dan boleh ditambah :

الَلَّهُمَّهَذَامِنْكَوَلَكَ،هَذَاعَنْ

Allahumma Hadza Minka Walaka Allahumma Hadza `An ……”

(Ya Allah, sembelihan ini dari-Mu dan hanya untuk-Mu. Dan sembelihan ini atas nama ……) yaknisambil menyebutkan nama yang berkurban.120


BeberapaCatatan Yang Berkenaan Dengan Udhhiyah

  1. Bilamana seseorang menyembelih udhhiyah, maka amalan itu telah mencakup pula seluruh anggota keluarganya.

  2. Bolehbergabungtujuh orang pada satu udhiyah yang berupa unta atau sapi.

  3. Diperbolehkanbagi yang berkurban untuk memakan sebagian dari daging sembihan kurbannya. Dan dianjurkan untuk membagikan udhhiyahkepada sanak saudara, tetangga dan fakir miskin.

  4. Diperbolehkanuntuk memindahkan hewan kurban ke tempat atau ke negeri lain selama tidak ada kerusakan yang timbul karenanya.

  5. Tidak diperbolehmenjual kulit dan daging sembelihan.

  6. Tidak boleh memberikan kepada penjagal (tukang sembelih) upah dengan daging tersebut dan apabila hendak memberi upah hendaknya memberi upah dari selainnya.

  7. Dianjurkan bagi yang mampu untuk menyembelih sendiri hewan kurbannya.

  8. Barang siapa yang bermaksud untuk berkurban maka dilarang baginya memotong kuku dan rambutnya atau bulu yang melekat di badannya sejak masuk tanggal 1 Dzul Hijjah.

Namun jika ia memotongnya, maka tidak ada kaffarah(denda) baginya, namun hendaknya ia beristigfar kepada Allah ,dan hal ini tidak menghalanginya untuk berkurban. Larangan tersebut khusus bagi pemilik hewan sembelihan tidak termasuk keluarganya baik istri maupun anak, kecuali jika salah satu dari mereka memiliki kurban lain tersendiri, dan tidak mengapa membasuh kepala atau menggaruknya meskipun hal itu menyebabkan beberapa helai rambut tercabut.

  1. Hendaknya menyembelihdengan pisau, parang (atau sejenisnya) yang telah dipastikan tajam agar tidak menyiksa hewan sembelihan.

  2. Seorang wanitaboleh menyembelih hewan kurban.

Bolehkahberkurban atas diri orang lain yang telah meninggal dunia ?

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menyebutkan rincian hal ini121 sebagai berikut:

  1. Apabila si mayit merupakan bagian dari yang masih hidup. Sebagaimana apabila seseorang berkurban atas dirinya dan seluruh keluarganya (padahal di antara mereka ada yang telah meninggal dunia). Hal ini dibenarkan sebab Nabi berkurban dan bersabda “Ya Allah, (kurban) ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad”.122

  2. Menyembelih kurban atas diri mayit secara khusus sebagai wujud sedekah baginya. Para Ulama Hanabilah membenarkannya, namun sebagian yang lain tidak membenarkannya kecuali bilamana ia sempat berwasiat sebelum wafatnya. Dan merupakan kekeliruan besar bilamana yang masih hidup memperhatikan kurban atas diri yang telah wafat tapi mereka mengabaikan ibadah ini atas diri mereka sendiri.

  3. Menyembelih kurban atas diri mayit dengan dorongan wasiatnya sebelum wafat. Wasiat semacam ini harus diwujudkan sebagaimana diwasiatkan tanpa ditambahkan maupun dikurangi.

Penutup

Tulisan ini merupakan ringkasan singkat tentang beberapa hal yang berkaitan dengan ibadah di bulan mulia Dzul Hijjah. Semoga bermanfaat bagi penulis dan para pembaca, amin. Melalui tulisan ini, penulis mengajak para pembaca untuk bersegera meraih kebahagiaan hakiki di bulan mulia ini.

Penulis bersyukur kepada Allah atassegala nikmat-Nya sehingga tulisan ini dapat terselesaikan. Tak lupa penulis menghaturkan banyak terima kasih kepada siapapun yang membantu proses penyusunan bookletini. Penulis mengharapkan masukan, saran serta kritik yang membangun, yang bisa dilayangkan via email info@pesantrenalirysad.org,karena tak ada satupun yang luput dari kekeliruan selain Allah .Dan kesempurnaan hanyalah milik-Nya.

Semoga Allah melimpahkantaufik-Nya kepada kita, mengampuni dosa-dosa kita dan menjadikan kita hamba-hama-Nya yang berjaya di dunia dan akhirat, amin. [Rizal Yuliar Putrananda]

1. Shahih, HR. Tirmidzi no: 682 dan Ibnu Majah no: 1642 keduanya dari Abu Hurairah

2. Shahih, HR. Muslim no: 551 dari Abu Hurairah

3. Shahih, HR. Nasa’i no: 2106 dari Abu Hurairah

4. Lihar Tafsir Ibnu Katsir jilid 1 hal. 505

5. Shahih, HR. Ibnu Majah no: 1642 dari Abu Hurairah

6. Shahih, HR. Abu Daud, lihat Shahih Al-Jami` no: 3794 dari Abu Umamah Al-Bahili .Yakni tanggal 13, 14, 15 bulan Hijriyah yang disebut ShaumAyyam Al-Bidh

7. Shahih, HR. Ibnu Majah no: 1752, lihat Silsilah Shahihah no: 596 dan 1797 dari Abu Hurairah

8. Hasan,HR. Abu Al-Hasan bin Mahrawaih. Lihat ShahihAl-Jami`no: 3032 dan 3033 dari Anas bin Malik .Disebutkan pula dalam riwayat yang lain, “Doa keburukan orang tua terhadap anaknya” No : 3031

9. Shahih, HR. Bukhari no: 2017 dan Muslim no: 2768 keduanya dari Aisyah

10. Shahih, HR. Bukhari no: 6 dan 1902 keduanya dari Ibnu `Abbas

11. Shahih, HR. Ibnu Hibban. Lihat At-Targhib wa At-Tarhib no: 361 dan 1003 dari `Amr bin Murrah Al-Juhani

12. Lihat penjelasan hal ini dalam kitabTajrid Al-Ittibaoleh Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili, hal. 117-118

13. Lihat Lathaif Al-Ma’arifoleh Ibnu Rajab Al-Hambali, hal. 270-271

14. Shahih, HR. Bukhari no: 1782 dari Ibnu `Abbas

15. Shahih, HR. Muslim no: 3029 dari Ibnu `Abbas

16. Lihat Lathaif Al-Ma`arif oleh Ibnu Rajab, hal. 376 tahqiq As-Salus tanpa sanad

17. Hasan Shahih, HR. Tirmidzi no: 3545 dari Abu Hurairah

18. Shahih, HR. Muslim no: 4468 dari Aisyah

19. Al-Mishbah Al-Munir Fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir hal. 818

20. Al-Mishbah Al-Munir Fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir hal. 130

21. Shahih, HR. Bukhari no: 1903, Abu Daud no: 2362, Tirmidzi no: 707, semuanya dari Abu Hurairah

22. Shahih, HR. Bukhari no: 1904, Muslim no: 2697, keduanya Abu Hurairah

23 . Shahih, HR. Bukhari 1901, Muslim no: 1778 dari Abu Hurairah

24 . Shahih, HR. Bukhari no: 2009, Muslim no: 1776 dari Abu Hurairah

25 . Shahih, HR. Bukhari no: 6 (dengan lafadz “… dan mempelajari Al-Qur’an bersamanya”), dan no: 1902

26. Shahih, HR. Muslim no: 1871 dari Abu Umamah Al-Bahili

27 . Shahih, HR. Bukhari no: 6 dan 1902

28. Shahih, HR. Muslim no: 6535 dari Abu Hurairah

29. Shahih, HR.Tirmidzi no: 807 dan Ibnu Majah no: 1746 dari Zaid bin Khalid Al-Juhani

30 . Shahih, HR. Bukhari no: 2025 dan 2026 dari Abdullah bin Umar

31 . Lihat Fathu Al-Bari juz: 4 hal: 344

32. Shahih, HR. Bukhari no: 2024, Muslim no: 2779

33 . Sebagaimana yang Allah jelaskan dalam surat Al-Qadar: 97/1-5. Lihat HR. Bukhari no: 1901 dari Abu Hurairah

34. Shahih, HR. Bukhari no: 2017 dari Aisyah

35 . Shahih, HR. Bukhari no: 2014, dan Muslim no: 1779 dari Abu Hurairah

36.Hasan, HR. Abu Al-Hasan bin Mahrawaih. Lihat ShahihAl-Jami`no: 3032 dan 3033 dari Anas bin Malik .Disebutkan pula dalam riwayat yang lain, “Doa keburukan orang tua terhadap anaknya” No : 3031

37 . Shahih, Lihat Shahih Sunan Tirmidzi 3604 dari Abu Sa`id Al-Khudri , dishahihkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no: 1816 dan Al-Albani dalam Syarah Al-`Aqidah Ath-Thahawiyah hal. 462 footnote no: 656

38 . Ath-Thibi berkata “yakni Allah lebih banyak (lagi) mengabulkan“. Lihat TuhfahAl-Ahwadzi 10/25

39 . Lihat Tafsir Al-Qur`an Al-`Azhim 1/286

40 . “Dan apabila hamba-Ku bertanya kepada engkau (wahai Muhammad ) tentang Aku, maka (sampaikanlah) sesungguhnya Aku dekat, Aku menjawab permohonan doa yang dipanjatkan kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu mendapatkan petunjuk Qs. Al-Baqarah: 2/186

41. Shahih, HR. Muslim no: 2343 dari Abu Hurairah

42. Shahih, HR. Tirmidzi no: 2140 dari Anas bin Malik

43. Shahih, HR. Ibnu Majah no: 3834 dari Anas bin Malik

44. Shahih, HR. Muslim no: 111 dari Abdullah bin `Umar

45. Shahih, HR. Bukhari no: 5927 dari Abu Hurairah

46. Shahih, HR. Muslim no: 2700 dan 2701 dari Abu Hurairah

47 . Shahih, HR. Bukhari no: 5066, Muslim no: 3384 dan 3386 dari Abdullah bin Mas`ud

48. Shahih, HR. Ibnu Hibban, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no: 986 dari Abu Umamah Al-Bahili

49 . Shahih, HR. Bukhari no: 1896, Muslim no: 2703 dari Sahl bin Sa`ad

50. Shahih, HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Jami` Ash-Shahih no: 3882 dari Abdullah bin `Amr bin Al-`Ash

51 . Shahih, HR. Ibnu Majah no: 1639 dari `Utsman bin Abi Al-`Ash Ats-Tsaqafi

52. Shahih, HR. Bukhari no: 1894, Muslim no: 2702 keduanya dari Abu Hurairah

53. Shahih, HR. Nasa’i no: 2331 dari Hafshah

54. Shahih, HR. Bukhari no: 1923, Muslim no: 2544 dari Anas bin Malik

55. Hasan, HR. Ahmad dari Abu Sa`id Al-Khudri , dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Jami` Ash-Shahih no: 3683

56. Shahih, HR. Bukhari no: 1921, Muslim no: 2547 dari Zaid bin Tsabit

57. Shahih, HR. Bukhari no: 1957, Muslim no: 2549 dari Sahl bin Sa`ab

58. Shahih, HR. Bukhari no: 2024, Muslim no: 2779

59. Shahih, HR. Bukhari no: 2017 dari Aisyah

60 . Shahih, HR. Bukhari no: 2014, dan Muslim no: 1779 dari Abu Hurairah

61 . Hasan, HR. Abu Daud no: 1609, Ibnu Majah no: 1827 dari Abdullah bin `Abbas

62 . Tanggal satu Syawwal adalah Hari Raya Idul Fitri. Rasulullah melarang pelaksanaan puasa di kedua Hari Raya (yakni Idul Fitri dan Idul Adha). Larangan dimaksud diriwayatkan secara Shahih, HR. Bukhari no: 1993 dari Abu Hurairah danMuslim no: 2666 dan lainnya dari beberapa sahabat Nabi

63. Shahih, HR. Muslim no: 2750 dari Abu Ayyub Al-Anshari

64. Hasan, HR. Abu Daud no: 2357 dari Ibnu Umar

65. Hasan, HR. Abu Daud no: 1425 dari Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib , Ibnu Majah no: 1179 dari Ali bin Abi Thalib

66. Shahih, HR. Abu Daud no: 1430, dan An-Nasa’i no: 1699 keduanya dari Ubay bin Ka`ab

67. Shahih, HR. Ibnu Majah no: 3850, Tirmidzi no: 3513 dengan tambahan lafazh كريمkeduanya dari Aisyah

68 . Atsar ini diriwayatkan oleh As-Suyuthi dan Al-Mahamili dari Sahabat Nabi bernama Jubair bin Nufair dan Abu Umamah Al-Bahili serta dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam kitab Tamam Al-Minnah hal. 254-256

69. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah. Lihat Tamam Al-Minnah hal. 356 dari Umar bin Khattab dan Abdullah bin Mas`ud , dan Irwa’ Al-Ghalil: jilid 3 hal. 125-126 dari Abdullah bin Mas`ud dan Ibnu Abbas serta Ikrimah.

70. Shahih, HR. An-Nasa’i no: 1556 dari Anas

71. LihatTafsir Ibnu Katsir jilid 3 hal. 415

72. Lihat Sahih Al-Bukhari dan Fathu Al-Bari Jilid 2 Hal. 589

73. Lihat Tafsit Ath-Thabari jilid 12 hal. 561 no: 37072

74. LihatTafsir Ibnu Katsir jilid 5 hal. 390

75. Shahih, HR. Bukhari no: 969, dan Abu Daud no: 2438 keduanya dari Ibnu Abbas

76. Lihat keterangan Imam Ibnu Rajab Al-Hambali dalam kitab Lathaifu Al-Ma’aarif hal. 19-20

77. Lihat keterangan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarhu Riyadhi Ash-Shalihinjilid 3 hal. 267

78. Shahih, HR. Al-Bazzar, Abu Ya`la dan Ibnu Hibban dari Jabir . Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani, lihat Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no: 1150 dan Al-Jami` Ash-Shahih no: 1133.

79. Shahih, HR. Muslim no: 3275 dari Aisyah

80. Shahih, HR. Abu Dud no: 1765 dari Abdullah bin Qurth

81. Lihat Fathu Al-Barioleh Ibnu Hajar jilid 2 hal. 593

82. LihatZaaduAl- Ma’adoleh Ibnu Al-Qayyim jilid 1 hal. 57

83.Hasan, HR. Ath-Thabrani dalam “Al-Kabir” no: 720 dari Anas bin Malik .Hadits ini dinilai “Hasan” oleh Syaikh Al-Albani dengan beberapa sanad lain yang mendukung dan menguatkannya.

84. Lihat dalam kitab Lathaifu Al-Ma’arif oleh Imam Ibnu Rajab Al-Hambali jilid 1 hal. 36 Pasal: Afdhalu At-Tathawwu` bish-shiyam

85. Shahih, HR. Bukhari no: 1773 dan Muslim no: 3276 keduanya dari Abu Hurairah

86. Lihat dalam kitab Lathaifu Al-Ma’arif oleh Imam Ibnu Rajab Al-Hambali jilid 1 hal. 295 Pasal: Fadhlu `Asyri Dzil Hijjah `Ala Ghayrihi min A`syari Asy-Syuhur

87. Karena Rasulullah tidak puasa pada hari itu tatkala beliau melakukan ibadah haji, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari no: 1988 dan Muslim no: 2627 keduanya dari Ummu Al-Fadhl bintu Al-Harits

88. Shahih, HR. Bukhari no: 5927 dan Muslim no: 2701 keduanya dari Abu Hurairah

89. Shahih, HR. Bukhari no: 2840 Muslim no: 2704 keduanya dari Abu Sa`id Al-Khudri dan lafazh hadits ini adalah riwayat Muslim

90. Shahih, HR. Bukhari no: 1993 dari Abu Hurairah danMuslim no: 2666 dan lainnya dari beberapa sahabat Nabi

91. Shahih, HR. Abu Daud no: 2437

92. Shahih, HR. Muslim no: 2738 dari Abu Qatadah Al-Anshari

93. Lihat Syarah Imam An-Nawawi terhadap Shahih Muslim Jilid 4 Juz 7 hal. 290

94. Shahih, HR. Bukhari no: 6502 dari Abu Hurairah

95. Lihat Fathu Al-Bari jilid 2 hal. 589 Pasal Fadhlu Al-Amali Fi Ayyam At-Tasyriq

96. Lihat Fathu Al-Bari jilid 2 hal. 594 Pasal At-Takbiru Ayyama Mina

97. Riwayat dua kali takbir dibawakan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Abdullah bin Mas`ud dengan sanad yang shahih, dan riwayat tiga kali takbir dibawakan oleh Al-Baihaqi dari Ikrimah dan Ibnu Abbas dengan sanad yang shahih pula. Lihat Irwa’ Al-Ghalil oleh Syaikh Al-Albani jilid 3 hal. 125-126.

98. Shahih, HR. Bukhari no: 1442dan Muslim no: 2333 keduanya dari Abu Hurairah

99. Shahih, HR. Muslim no: 6535 dari Abu Hurairah

100. Lihat kisah pengorbanan ini dan penyembelihan ini dalam QS. Ash-Shaffat: 37/102-110

101. Shahih, HR. Bukhari no: 5565 dan Muslim no: 5060, 5061 keduanya dari Anas bin Malik

102. Lihat panduan pelaksanaan Shalat Idul Fitri pada pembahasan Ramadhan di atas hal: 24

103. LihatTafsir Ibnu Katsir jilid 5 hal. 503

104. Lihat Majmu` Al-Fatawa oleh Ahmad bin Abdi Al-Halim bin Abdi As-Salam jilid 16 hal. 531-532

105. Lihat Adhwa’ Al-Bayan oleh Syaikh Muhammad Al-Amin asy-Syinqithi jilid 6 hal. 164-165

106. Lihat Tafsir Ibnu Katsir jilid 2 hal.382

107. Shahih,HR. Bukhari no: 5565 dan Muslim no: 5060, 5061 keduanya dari Anas bin Malik

108. LihatAl-Mughnioleh Ibnu Qudamah Al-Maqdisiy jilid 13 hal. 360

109. Lihat rincian penjelasan ini dalam kitab Ahkam Al-Udhhiyah wa Adz-Dzakah yang disusun oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin hal 7-15

110. Lihat penjelasan ini dalam kitab Ahkam Al-Udhhiyah wa Adz-Dzakah yang disusun oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin hal 5

111. LihatAl-Mughnioleh Ibnu Qudamah Al-Maqdisiy jilid 13 hal. 362

112. Shahih, HR Abu Daud no: 2813 dan Muslim no: dengan lafazh “Hari-hari Tasyriq merupakan hari-hari makan dan minum” keduanya dari Nubaisyah Al-Hudzali

113. Shahih, HR. Bukhari no: 5545 dari Anas bin Malik

114. Shahih, HR.Muslim no: 5042 dari Al-Bara’ bin `Azib

115. Shahih, HR.Bukhari no: 985, 7400 keduanya dari Jundab bin Abdillah dan Muslim no: 5042 dari Jundab bin Sufyan

116. Shahih, HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Jami` Ash-Shahih no: 4537 dari Jubair bin Muth`im

117. Muslim no: 3172 dari Jabir bin Abdillah

118. Lihat rincian penjelasan aib-aib pada hewan kurban ini dalam kitab Ahkam Al-Udhhiyah wa Adz-Dzakah yang disusun oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin hal 41-46

119. Shahih, HR. Ibnu Majah no: 3144 dari Al-Bara’ bin `Azib

120. Shahih, HR. Tirmidzi no: 1505 dan IbnuMajah no: 3147 keduanya dari Abu Ayub Al-Anshari

121. Lihat rincian penjelasan ini dalam kitab Ahkam Al-Udhhiyah wa Adz-Dzakah yang disusun oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin hal 18-19

122. Shahih, HR. Ibnu Majah no: 3122 dari Abu Hurairah

This entry was posted in Agama. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s